Dianggap Ikut Bertanggung Jawab, Chechnya Akan Usir Kerabat Militan
Di kota Shali, Republik Chechnya, pada 19 Januari lalu dilangsungkan pertemuan warga untuk membahas keputusan yang menegaskan bahwa keluarga dan kerabat dari militan yang terlibat dalam kegiatan terorisme akan diusir dari kota tersebut sebagai bentuk tanggung jawab, demikian pernyataan yang diberikan oleh kantor walikota. Sebagian warga yang hadir mendukung langkah tersebut, di sisi lain ada pula yang tidak setuju dan menilai bahwa pihak berwenang tengah berupaya untuk menghindar dari tanggung jawab atas tindakan ilegal yang kemungkinan dapat dilakukan oleh kerabat dari militan.
Sebagaimana yang dilansir media Kavkasky Uzel, pertemuan serupa pernah diadakan sebelumnya di wilayah Chechya lainnya, yaitu di pusat kota Kurchaloi dan di desa Tsotsin Yurk.
Pertemuan warga tersebut diadakan sehubungan dengan penangkapan tujuh warga Shali selama operasi khusus. Mereka ditahan atas keterlibatannya dalam aksi terorisme. Mereka diketahui merencanakan pembunuhan petugas keamanan, pegawai pemerintah, perwakilan keagamaan beserta anggota keluarga mereka, dan aksi serangan terhadap unit pasukan federal, demikian disampaikan narasumber dari badan penegak hukum Chechnya.
"Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari kementerian dan departemen, aparat penegak hukum, sesepuh kota, pemuka agama dan ratusan warga Shali," kata seorang narasumber di pemerintahan kota Shali.
Seperti yang disampaikan sang narasumber, perwakilan dari pihak berwenang menekankan bahwa manifestasi ekstremis tidak dapat dibiarkan, otoritas setempat menilai perlunya kontrol orangtua atas tindakan anak-anak muda untuk mencegah keterlibatan mereka dalam kegiatan ilegal dan dilarang di Rusia terkait terorisme.
"Pada pertemuan tersebut telah disepakati bahwa untuk ke depannya, keluarga beserta kerabat dari militan dan teroris akan turut diusir dari republik," tutur sang narasumber.
Hadapi Pro dan Kontra
Meski begitu, keputusan tersebut mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Seorang penduduk kota Shali bernama Adam mengaku mendukung keputusan tersebut. Menurutnya, pengusiran keluarga teroris dari wilayah republik tidak akan dilakukan secara langsung. Sebaliknya, masyarakat justru diberikan peringatan: jika hal tersebut terulang kembali, maka peraturan ini akan diterapkan. Menurutnya, siapapun yang merencanakan kejahatan harus tahu apa konsekuensi dari perbuatannya.
"Pada 2001 silam ada kelompok bersenjata yang membunuh saudara dan keponakan saya. Saya tahu betul apa rasanya kehilangan orang yang dicintai oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya Islam," kata Adam.
Di sisi lain, ada pula warga yang memiliki pendapat berbeda. Seorang warga lainnya bernama Ismail menilai bahwa inisiatif untuk melangsungkan pertemuan itu datang dari pihak berwenang yang ingin melepaskan diri dari tanggung jawab atas kemungkinan tindakan ilegal yang dapat dilakukan oleh keluarga militan.
"Berbicara mengenai ancaman terorisme dan wahhabisme, rasanya tidak adil jika orangtua harus bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan anak-anak mereka," kata Ismail.
Menurut Ismail, otoritas setempat mengemukakan alasan bahwa menurut adat dan kebiasaan Chechnya, wajar jika keluarga penjahat atau pembunuh diusir dari desa dan menjadi sasaran kebencian.
"Tetapi, pada zaman dulu belum ada hukum tertulis, baik konstitusi maupun lembaga penegak hukum. Sedangkan kami adalah negara hukum, kami memiliki hukum federal. Di dalamnya tidak tertulis bahwa seorang ayah harus bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan anaknya," tutur Ismail.
Seperti apa Islam di Rusia?
Ada peraturan tentang mengenakan jilbab
Di Chechnya, PNS perempuan bahkan wajib mengenakan jilbab
Biaya haji Rusia adalah yang termurah di dunia
Dalam 20 tahun, lebih dari 8.000 masjid dan sekolah muslim dibangun di Rusia
Lima koleksi naskah Alquran terpenting bahkan disimpan dengan baik di Rusia
